• Asmaul Husna

  • Saat ini (WIB) …

  • Hari ini …

  • Yang Mampir

    • 220,418 pengunjung
  • Isi Blog ini

  • Tulisan Teratas

  • Pilih Kategori…

  • Tulisan Dalam Blog Ini…

Diproteksi: UJIAN MID & UAS

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Ada 13 Model Pembelajaran Inovatif

Pengertian Inovatif/Inovasi Pendidikan

Inovasi berasal dari kata latin, Innovation yang berarti pembaharuan dan perbuahan. Inovasi adalah suatu perubahan yang baru yang menuju kearah perbaikan yang lain atau berbeda dari yang sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara kebetulan saja).

Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang disarankan atau diamati sebagai hal yang baru bagi hasil seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inverse (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.

Demikian pula Ansyar, Nurtain (1991) mengemukakan inovasi adalah gagasan, perbuatan, atau suatu yang baru dalam konteks sosial tertentu untuk menjawab masalah yang dihadapi.

Selanjutnya dijelaskan bahwa sesuatu yang baru itu mungkin sudah lama dikenal pada konteks sosial lain atau sesuatu itu sudah lama dikenal, tetapi belum dilakukan perubahan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa inovasi adalah perubahan, tetapi tidak semua perubahan adalah inovasi.

Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetap ijuga di segala bidang termasuk bidang pendidikan.pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen system pendidikan.

Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.

Kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang rill dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun sekolah/ lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan, kelemahan tantangan dan hambatan yang ada.

Menurut Santoso (1974), tujuan utama inovasi adalah, yakni meningkatkan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.

Tujuan Inovasi Pendidikan

 Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas: sarana serta jumlah pendidikan sebesar-besarnya (menurut criteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunana), dengan menggunakan sumber, tenga, uang, alat, dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya.

Tahap demi tahap arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia:

  1. Mengajar ketinggalan-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajara dengan kemjuan tersebut.
  2. Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga Negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.

 

Model Pembelajaran Inovatif

Berikut adalah model-model pembelajaran inovatif, yaitu:

A.  Model Examples Non Examples

Contoh dapat dari Kasus/Gambar yang Relevan dengan Kompetensi Dasar
Langkah-langkah :

  1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/In Focus.
  3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar.
  4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
  5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
  6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
  7. Kesimpulan.

B.  Picture And Picture
 Langkah-langkah :

  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
  3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
  4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
  5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
  6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
  7. Kesimpulan/rangkuman.

C. Numbered Heads Together 

Langkah-langkah :

  1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
  2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
  3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.
  4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
  5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
  6. Kesimpulan.

D.  Cooperative Script 

Metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari
Langkah-langkah :

  1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
  2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
  3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
  4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar : (a) Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap; (b) Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
  5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
  6. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan guru.
  7. Penutup.

E.  Kepala Bernomor Struktur 

Langkah-langkah :

  1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
  2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai. Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya.
  3. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka.
  4. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain.
  5. Kesimpulan.

F.  Student Teams-Achievement Divisions (Stad)/Tim Siswa Kelompok Prestasi (Slavin, 1995)
 Langkah-langkah :

  1. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll).
  2. Guru menyajikan pelajaran.
  3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
  4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
  5. Memberi evaluasi.
  6. Kesimpulan.

G.  Jigsaw (Model Tim Ahli)/(Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, And Snapp, 1978) 

Langkah-langkah :

  1. Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim.
  2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda.
  3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.
  4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.
  5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
  6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
  7. Guru memberi evaluasi.
  8. Penutup.

H. Problem Based Introductuon (PBI)/(Pembelajaran Berdasarkan Masalah) 

Langkah-langkah :

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
  2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.).
  3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
  4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
  5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

I. Artikulasi 

Langkah-langkah :

  1. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
  2. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa.
  3. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang.
  4. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
  5. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
  6. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa.
  7. Kesimpulan/penutup.

J. Mind Mapping 

Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban
Langkah-langkah :

  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban.
  3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang.
  4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi.
  5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru.
  6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru.

K.  Make – A Match (Mencari Pasangan) (Lorna Curran, 1994) 

Langkah-langkah :

  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
  2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu.
  3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
  4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban).
  5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
  6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.
  7. Demikian seterusnya.
  8. Kesimpulan/penutup.

L. Think Pair And Share (Frank Lyman, 1985) 

Langkah-langkah:

  1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
  3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
  4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
  5. Berawal dari kegiatan tersebutmengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
  6. Guru memberi kesimpulan
  7. Penutup

M.  Debat 

Langkah-langkah :

  1. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra.
  2. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas.
  3. Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
  4. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi.
  5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap.
  6. Dari data-data di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.

Sumber: Indonesia Mengajar

Menguak Rahasia Kelelawar

Kelelawar merupakan satu-satunya mamalia bersayap yang termasuk ke dalam ordo Chiroptera. Chiroptera berasal dari bahasa Yunani: cheir artinya “tangan” dan pteron artinya “sayap”. Nowak dalam Nurfitrianto, dkk (2013) mengungkapkan bahwa ordo Chiroptera yang terbagi atas 2 subordo, yaitu Megachiroptera dan Microchiroptera terdiri dari 18 famili, 192 genus, dan 977 spesies.

Kelelawar mempunyai sayap tipis yang disebut patagium; terbentuk oleh perpanjangan jari kedua sampai kelima, serta terdiri dari banyak pembuluh darah, serabut jaringan ikat dan saraf. Perbedaan nyata antara sayap kelelawar dengan sayap burung adalah pada perluasan tubuhnya yang berdaging dan sayapnya yang tidak berbulu terbuat dari membran elastis tetapi berotot.

Kelelawar menggunakan frekuensi 100.000 Hz untuk navigasi gerakan terbang. Kelelawar memanfaatkan mekanisme aerodinamika yang sama seperti serangga serta mengandalkan pusaran udara horisontal yang disebut LEV (leading edge vortex) untuk menjaga tubuhnya tetap mengambang.

LEV terbentuk saat kelelawar mengepakkan sayapnya ke bawah (downstroke). Hal tersebut menghasilkan gaya dorong ke atas yang cukup kuat sehingga kelelawar tidak jatuh saat melakukan gerakan lambat atau melayang. Gaya dorong yang dihasilkan LEV menyumbangkan 40 persen gaya yang dibutuhkan untuk melayang.

Kelelawar memiliki ciri khusus yang dikenal dengan istilah echolocation (echo: gema, suara terpantul; dan location: penentuan letak, tempat benda). Ekolokasi kelelawar adalah teknik penentuan jarak dan keberadaan suatu benda dengan mengeluarkan suara, lalu mendengarkan pantulan suaranya sehingga memungkinkannya mendapatkan “peta”.

Kelelawar Microchiroptera dengan kemampuan ekolokasi mengeluarkan suara ultrasonik dari mulut atau hidungnya. Pantulan gelombang suara yang diterima oleh tragus diteruskan ke otak untuk diterjemahkan menjadi citra lingkungan sekitarnya dalam benak kelelawar. Bentuk telinga kelelawar yang seperti corong berfungsi sebagai penerima gelombang ultrasonik yang dibalikkan, seperti radar penerima.

 

Menurut Cracknell, kelelawar mengeluarkan pulsa gelombang ultrasonik dengan frekuensi ± 40-50 kHz (Marlianto). Denyut ultrasonik yang dipancarkan oleh kelelawar akan dipantulkan apabila terkena mangsanya. Kelelawar menentukan letak melalui gema dengan mengingat setiap gelombang suara yang dikeluarkannya dan membandingkan gelombang suara yang asli dengan gema yang kembali kepadanya. Jika kecepatan bunyi di medium v, selang waktu t antara dikeluarkannya suara dengan diterimanya gema dapat dihitung dengan frekuensi suara kelelawar f dan banyaknya gelombang ultrasonik yang dipancarkan n, maka dapat ditentukan jarak sasaran s dari kelelawar melalui persamaan berikut:

 

Menurut Efek Doppler, jika sumber suara dan penerima suara keduanya sama-sama tak bergerak, maka penerima akan mengindera frekuensi yang sama dengan yang dipancarkan oleh sumber suara. Tetapi jika salah satunya bergerak, frekuensi yang diterima akan berbeda dengan yang dipancarkan. Oleh karena rentang frekuensi yang mampu didengar oleh kelelawar sangat sempit, maka kelelawar akan meninggikan frekuensi suara apabila hendak menangkap mangsa yang bergerak menjauh. Sebaliknya, ia akan merendahkan frekuensi suaranya jika mangsa bergerak mendekat. Hal ini dimaksudkan agar frekuensi suara yang dipantulkan tidak jatuh ke wilayah frekuensi yang tidak dapat didengar oleh kelelawar.

 

Prinsip ekolokasi kelelawar diterapkan pada teknologi Ultracane, yaitu alat bantu bagi tunanetra yang dapat menggambarkan citra buatan tiga dimensi dalam otak pengguna. Teknologi lainnya ialah sonar (sound navigation and ranging) dan USG (ultrasonography).

Manfaat lain dari kelelawar yaitu saliva kelelawar yang mengandung enzim Desmoteplase (DSPA) untuk mencegah pembekuan darah, daging kelelawar dengan senyawa kitotefin-nya sebagai obat asma, serta kotoran kelelawar yang dijadikan pupuk guano.

Sumber: kompasiana

PERBEDAAN PEMENANG dan PECUNDANG

PEMENANG selalu jadi bagian dari jawaban;
PECUNDANG selalu jadi bagian dari masalah.

PEMENANG selalu punya program;
PECUNDANG selalu punya kambing hitam.

PEMENANG selalu berkata, “Biarkan saya yang mengerjakannya untuk Anda”
PECUNDANG selalu berkata, “Itu bukan pekerjaan saya”;

PEMENANG selalu melihat jawab dalam setiap masalah;
PECUNDANG selalu melihat masalah dalam setiap jawaban.

PEMENANG selalu berkata, “itu memang sulit, tapi kemungkinan bisa”;
PECUNDANG selalu berkata, “Itu mungkin bisa, tapi terlalu sulit”.

PEMENANG Saat melakukan kesalahan, dia berkata, “saya salah”;
PECUNDANG melakukan kesalahan, dia berkata, “itu bukan salah saya”.

PEMENANG membuat komitmen-komitmen;
PECUNDANG membuat janji-janji.

PEMENANG mempunyai impian-impian;
PECUNDANG punya tipu muslihat.

PEMENANG berkata, “Saya harus melakukan sesuatu”;
PECUNDANG berkata, “Harus ada yang dilakukan”.

PEMENANG adalah bagian dari sebuah tim;
PECUNDANG melepaskan diri dari tim.

PEMENANG melihat keuntungan;
PECUNDANG melihat kesusahan.

PEMENANG melihat kemungkinan-kemungkinan;
PECUNDANG melihat permasalahan.

PEMENANG percaya pada menang-menang (win-win);
PECUNDANG percaya, mereka yang harus menang dan orang lain harus kalah.

PEMENANG melihat potensi;
PECUNDANG melihat yang sudah lewat.

PEMENANG seperti thermostat;
PECUNDANG seperti thermometer.

PEMENANG memilih apa yang mereka katakan;
PECUNDANG mengatakan apa yang mereka pilih.

PEMENANG menggunakan argumentasi keras dengan kata2 yang lembut;
PECUNDANG menggunakan argumentasi lunak dengan kata2 yang keras.

PEMENANG selalu berpegang teguh pada nilai2 tapi bersedia berkompromi pada hal2 remeh;
PECUNDANG berkeras pada hal2 remeh tapi mengkompromikan nilai2.

PEMENANG menganut filosofi empati, “Jangan berbuat pada orang lain apa yang Anda tidak ingin orang lain perbuat pada Anda”;
PECUNDANG menganut filosofi, “Lakukan pada orang lain sebelum mereka melakukannya pada Anda”.

PEMENANG membuat sesuatu terjadi;
PECUNDANG membiarkan sesuatu terjadi.

PEMENANG selalu berencana dan mempersiapkan diri, lalu memulai tindakan untuk menang…
PECUNDANG hanya berencana dan berharap ia akan menang

Sumber: Dari beberapa situs dan buku

MENGENAL KODE ETIK DI PESANTREN

KODE ETIK GURU:

1. Niat Tulus Murni.
2. Mengamalkan Ilmu.
3. Mengibarkan Syiar Islam.
4. Mengharagi Imu.
5. Tidak Menyimpan Ilmu.
6. Senantiasa Haus Ilmu.
7. Selalu Mawas Diri.
8. Menjaga Nama Baik.
9. Hindari Sikap Tercela.
10. Menjadi Fiqur Sederhana
11. Gigih dalam Berjuang.
12. Membuat Karya.
13. Mendo’akan Murid.

ETIKA GURU SAAT MENGAJAR

1. Senantiasa Suci dan Bersih.
2. Berdo’a sebelum Mengajar.
3. Menekuni Bidangnya.
4. Memilih Materi Standar.
5. Mengatur Intonasi Suara.
6. Tidak Bersikap Gengsi.

ETIKA GURU BERSAMA MURID

1. Tanamkan Tujuan Mulia.
2. Bersikap Terbuka.
3. Memotivasi Murid
4. Menyayangi iMurid
5. Menggunakan Metode yang mudah.
6. Memperhatikan Akhlak Murid.
7. Meringankan Beban Murid.
8. Bersikap Tawaduk.
9. Tidak pilih kasih.

SUMBER :
Buku Saku GURU Pondok Pesantren Sidogiri.
Diterbitkan oleh BATARTAMA (Badan Tarbiyah wa Taklim Madrasi) PPS.

Materi Diklat Implementasi Kurikulum 2013

Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 telah selesai dilaksanakan, pemahaman masing-masing instruktur nasional, guru inti,kepala sekolah dan guru sasaran tidak semuanya sama. Beberapa persepsi yang berbeda mengalir di sekolah masing-masing. Kondisi ini sedikit banyak menimbulkan beberapa pertanyaan yang tidak bertepi dan dapat menjadi resistansi berkelanjutan terhadap implementasi Kurikulum 2013. Dalam kesempatan ini saya mencoba membuat resume atas beberapa pertanyaan yang berkembang selama ini, dimana saya mulai dengan memberikan gambaran konsep inti Kurikulum 2013 diantaranya :

  • Bahwa Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan dan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi
  • Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa”.
  • Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
  • Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”
  • Dimana hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, (Observing) menanya (Questioning), menalar (Associating) , mencoba (Experimenting) membentuk jejaring (Networking) untuk semua mata pelajaran.

Dengan demikian Implementasi Kurikulum 2013 disekolah SMA/SMK yang benar-benar murni menggunakan Kurikulum 2013 hanya 3 Mata Pelajaran yaitu Matematika, Sejarah Indonesia dan Bahasa Indonesia. Selain ke 3 Mata Pelajaran tersebut sekolah MASIH TETAP menggunakan KTSP namun dengan Pendekatan Ilmiah (Scientific Approach) dan Integrasi Ke-3 Ranah..

Jadi yang perlu serius digarap oleh sekolah sekarang ini baik yang menjadi sekolah sasaran atau tidak, adalah mengubah paradigm guru untuk mengadopsi model pembelajaran menuju kearah penguatan sikap, ketrapilan dan pengetahuan yang terintegrasi dengan Scientific Approach terhadap mata pelajaran masing.-masing dengan mulai melakukan perubahan pada Silabus dan RPP yang ada di KTSP serta mengimplementasikan dalam pembelajaran di kelas.

Khusus untuk SMK, salah satu acuan baku yang bisa dipakai pegangan dalam Implementasi Kurikulum 2013 adalah Permendikbud 70/2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK/MA Kejuruan. Pada Permen ini tertuang mata pelajaran dari Kelompok A, B dan C (C1). Masalah mulai timbul, karena beberapa sekolah sudah harus menyusul Jadwal Pelajaran 1 Tahun, sedangkan Kelomok C2 dan C3 belum ada tertulis matapelajaran apa yang harus diajarkan. Untuk diketahui Kelompok C (Peminatan) berisi C1 (Kelompok Mata Pelajaran Dasar Bidang Keahlian), C2 (Kelompok Mata Pelajaran Dasar Program Keahlian) dan C3 (Kelompok Mata Pelajaran Paket Keahlian). Khusus Kelompok C2 dan C3 akan ditetapkan oleh Direjn Pendidikan Menengah.

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menjadi solusi dalam menyikapi belum keluarnya ketetapan untuk C2 dan C3, dari hasil diklat Implementasi Kurikulum 2013, beberapa inovasi diberikan oleh narasumber diantaranya, pertama sepanjang C2 dan C3 belum ditetapkan maka sekolah dapat mengisinya dengan menggunakan matapelajaran produktif dari KTSP, dan yang kedua adalah memberikan draft struktur yang memang belum ditetapkan untuk dapat digunakan sebagai acuan penyusunan. Kedua solusi itu bagus untuk mempercepat penyusunan jadwal namun mubasir dan melelahkan (terutama perdebatan yang timbul saat penyusunan di tingkat sekolah). Contohnya untuk solusi kedua, dimana dinamikan yang timbul dari penentuan C2, sekarang ini telah ada penambahan mata pelajaran Simulasi Digital 3 jam/minggu untuk klas X, sehingga draft yang ada juga tidak bisa digunakan secara pasti sebelum ditetapkan oleh Dirjen Pendidikan Menengah.

Alternatif yang terbaik adalah menuggu ketetapan yang akan dikeluarkan, karena proses penyusunan sampai dengan silabus telah dilaksanakan di P4TK dan sekarang ini tinggal finalisasi di Direktorat PSMK. Sedangkan untuk menyiasati penyusunan jadwal, maka C3 tidak perlu dibuat dulu, karena matapelajaran ini akan diajarkan Kelas XI, sedangkan C2 dari 48 Jam yang diamanatkan, 30 jam telah ada ditetapkan mapelnya sesuai dengan Pemendikbud 70/2013, tinggal 18 jam yang belum, dimana dengan menggunakan sistem blok 18 jam ini mungkin bisa diletakan di semester genap (semester 2). Untuk materi selain 3 mapel (bahasa indonesia, sejarah indonesia dan metematika), materinya belum disusun dan ditetapkan oleh kemendikbud, maka materi masih menggunakan KTSP dengan perubahan paradigma pada model pembelajarannya yaitu Integrasi 3 ranah dan Scientific Approach.

Berikut Power Point Untuk Pendalaman Immplentasi Kurikulum 2013

No. Kelompok Materi Unduh
1. Umum Perubahan Mindeset ( Rhenald Kasali) Unduh
2. Umum Perubahan Minset Unduh
3. Umum Rasional Kurikulum 2013 Unduh
4. Umum  Elemen Perubahan Kurikulum 2013 Unduh
5. Umum SKL KI-KD Unduh
6. Umum Strategi Implementasi Kurikulum Unduh
7. Umum Konsep Pendekatan Scientific Unduh
8. Umum Project Base Learning Unduh
9. Umum Problem Base Learning Unduh
10. Umum Discovery Learning Unduh
11. Umum Konsep Penilaian Autentik pada Proses dan Hasil Unduh
12. Umum Anaslisi Buku Guru dan Siswa Mapel Unduh
13. Umum Analisis Buku Guru dan Siswa Tematik Unduh
14. Umum Rambu Rambu Penyusunan RPP Unduh
15. Umum Rambu-Rambu Penyusunan RPP Tematik Unduh
16. Umum Panduan Tugas Telah RPP Unduh
17. Umum Panduan Tugas Analisis Rancangan Penilaian Unduh
18. Umum Strategi Pengamatan Tayangan Video Unduh
19. Umum Praktik Pembelajaran malalui peer Teaching Unduh
20. SD Konsep Pembelajaran Tematik Terpadu Unduh
21. SD Implementasi Tematik Terpadu Unduh
22. SD Contoh Implmentasi Pendekatan Scientific Unduh
23. SD Analisis Buku Guru dan Siswa Tematik Unduh
24. SD Rambu-Rambu Penyusunan RPP Tematik Unduh
25. SMP Contoh Pendekatan Scientific Bahasa Indonesia Unduh
26. SMP Contoh Penilaian Autentik Bahasa Indonesia Unduh
27. SMP Konsep Pendekatan Scientific Unduh
28. SMP Konsep Pendekatan Scientific Unduh
29. SMP Konsep Penerapan Scientific Unduh
30. SMP Konsep Penilaian Autentik Unduh
31. SMP Contoh Penerapan Unduh
32. SMP Konsep Pembelajaran IPA Terpadu Unduh
33. SMP Penerapan Pendekatan Scientific Unduh

Sumber: PPPPTK BMTI Bandung – http://widyaprima.psmk.net/

MAKA NIKMAT TUHANMU YANG MANA LAGI YANG KAMU DUSTAKAN?

MAKA NIKMAT TUHANMU YANG MANA LAGI YANG KAMU DUSTAKAN?
(Q.S. Ar Rahman)

Teman di tempat kerja sy (bukan di Jakarta), masih ada (guru) yang mengatakan Rp. 8 juta sebulan masih kurang/belum layak. Terus saya tanya: “apa yang membuat anda merasa layak dibayar pemerintah sebesar Rp 8 jt / bulan? Spt nya tidak ada.” Saya Tegur ybs.

Soalnya (sy terangkan padanya):
– Anda masih ingin masuk ke sekolah saat mengajar saja, lalu pulang
– Anda PNS, punya kewajiban jam kerja 37,5 seminggu
– Anda PNS mendapat uang makan sehari Rp 600an ribu sebulan
– Anda Wali Kelas mendapat tunjangan Honor Rp 500an ribu sebulan
– Anda Guru, dapat transport Rp. 200rb perbulan
…………
– Anda Guru, mengetik soal pakai komputer saja belum bisa
– Anda Guru, membuat media power point saja juga belum bisa (sm sekali)
– Anda Guru, menggunakan Excel untuk evaluasi belajar jg blm bisa
…………
Jadi anda ingin bekerja masuk ke sekolah tiap hari hanya 3 jam, dan dibayar Rp. 200-300rb perhari??? atau Rp. 8-9 jt perbulan (termasuk TPP)

Lalu saya bilang: “Lihat teman2 kita yang Honorer, mereka masih Rp 500 rb -1,2 jt sebulan, dan tanggungan hidup sama ! Syukuri apa yang telah kita terima, perbaiki kinerja kita.”
…………….

Apakah di tempat Bpk/Ibu mengajar masih ada guru yg berpikiran spt ini?
Jika masih ada, semoga cepat berubah. Aamiin.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.803 pengikut lainnya.