• Asmaul Husna

  • Saat ini (WIB) …

  • Hari ini …

  • Yang Mampir

    • 226,006 pengunjung
  • Isi Blog ini

  • Tulisan Teratas

  • Pilih Kategori…

  • Tulisan Dalam Blog Ini…

Guru: Ada yang Hebat, ada yang Bejat & ada yang Melarat

Pada 25 November (kemarin) kita kembali memperingati hari guru, biasanya pada hari tersebut, di sekolah-sekolah diadakan acara peringatannya secara sederhana yang sering dijadikan sebagai hari ungkapan terima kasih anak didik kepada gurunya. Salah satu bentuk kegiatan hari guru antara lain adalah acara penyerahan bunga oleh anak didik kepada gurunya.

Selain itu, tidak banyak lagi acara lain dalam mengenang dan memperingati hari guru, kalaupun ada, tidak lebih dari seminar atau workshop, atau kegiatan sejenis yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi atau lembaga yang mempunyai kaitan dengan guru. Jarang sekali kebijakan atau keputusan pemerintah yang keluar dalam rangka hari guru yang bisa menjadi kado yang berharga bagi profesi guru. Rasanya belum ada terobosan hebat yang secara nyata bisa menjadikan guru sebagai profesi yang menggairahkan sehingga bisa menjadi pilihan.

Justru yang muncul adalah yang sebaliknya yaitu pernyataan yang selalu menyudutkan guru. Pernyataan yang muncul sering tidak lepas dari guru yang tidak profesional, guru yang tidak berkualitas, dan guru yang tidak kompeten, serta berbagai tudingan lainnya tanpa memberi solusi bagaimana agar guru bisa profesional, berkualitas, dan kompeten.

Memang sesudah munculnya kebijakan sertifikasi guru yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas guru agar mereka dapat menjalankan tugasnya lebih profesional. Sertifikasi tersebut memunculkan secercah harapan akan meningkatnya gengsi sebagai guru yang sekaligus meningkatnya kesejahteraan guru, serta munculnya figur-figur guru yang profesional dan berkualitas. Namun, harapan tersebut baru sekadar harapan, masih banyak guru yang tetap melarat, hidup dengan gaji seratusan ribu rupiah sebulan, hidup dengan gaji yang sering terlambat bahkan ada yang sampai berbulan-bulan gajinya tertunda. Kisah guru yang tidak digaji selama dua tahun, dan terus mengajar dengan segala minimnya fasilitas adalah fakta yang masih memperlihatkan pahit getirnya nasib guru, terutama guru honor yang bertugas di pedalaman dan mengajar di sekolah kecil.

Guru sering kali dituding sebagai tidak profesional dan tidak bermutu, tetapi sering kali orang tidak pernah berpikir bagaimana mereka akan bisa profesional dan meningkat kualitasnya jika minimnya fasilitas pembelajaran yang tersedia relatif terbatas, beban tugas yang berat, ditambah lagi dengan beban untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan gaji yang mereka terima, terutama bagi mereka yang masih berstatus guru honorer.  Salah satu yang memberatkan tugas mereka adalah sering seorang guru harus mengajar lebih dari satu mata pelajaran yang tidak jarang bukan merupakan inti dari pengetahuan yang dimilikinya, sehingga proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal. Namun, beban mereka yang lebih berat adalah ketidakmandiriannya sebagai guru sehingga sering diintervensi oleh berbagai kepentingan, termasuk intervensi dalam melakukan evaluasi keberhasilan siswa, menentukan kelulusan siswa, intervensi politik, serta intervensi kepentingan individu, golongan, atau kelompok tertentu. Berbagai intervensi ini membuat terganggu penyelenggaraan pembelajaran baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Apa yang dikeluhkan oleh Komunitas Air Mata Guru berupa intimidasi adalah contoh dari kentalnya intervensi sekaligus keprihatinan masih jauhnya dunia pendidikan kita dari kebenaran, kejujuran, dan keadilan.  Korupsi, kesewenang-wenangan, dan pelecehan martabat manusia masih sering dimenangkan terhadap keadilan, kejujuran, dan kebenaran.

Dalam kondisi yang tidak mendukung, kelebihan beban, dan kehidupan yang jauh dari lumayan, tentunya akan sangat sulit bagi para guru untuk meningkatkan kualitasnya dan menjadi guru yang profesional. Oleh karena itu, tidak jarang jika mereka ada yang tergoda untuk merendahkan profesi mulia yang disandangnya dengan mengomersialkannya, menjual nilai, menjual kelulusan, serta menjual harga diri. Jadi jika ada guru yang tetap setia kepada profesinya, masih mampu berprestasi dan menghasilkan siswasiswa berprestasi dengan gaji yang minim dan sering terlambat, serta sering berada dalam tekanan atasannya, birokrasi, dan politisi, tentulah guru demikian dapat dikategorikan sebagai guru perkasa yang patut diberi tanda jasa walau dikatakan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Guru seperti ini tentulah masih ada walaupun jumlahnya tidak seberapa. Segelintir di antaranya ada di pelosok desa, sebagiannya lagi terselip di tengah hingar bingar kota.

Persoalan yang paling memprihatinkan dari sebagian oknum guru kita adalah persoalan moral dan susila. yang beberapa tahun belakangan ini sering diberitakan, sehingga semakin mencoreng profesi guru. Beberapa di antaranya yang muncul di media massa antara lain adalah berita guru SD di Tapanuli Tengah melakukan oral seks disaksikan murid-murid lainnya. Sebelumnya kita juga membaca seorang guru SMA di Kota Binjai, malah memperkosa siswanya setelah sebelumnya dikabarkan juga seorang guru mengaji di Desa Sijenggung, Banjarnegara, Jawa Tengah, ditangkap karena memperkosa 11 anak didiknya. Berita lainnya yang juga pernah menghiasi media massa adalah ulah seorang oknum guru bantu di SDN Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Guru yang merangkap sebagai pembina pramuka ini diciduk oleh anggota Polsek Muncar karena diduga mencabuli siswanya sendiri. Kasus perkosaan juga dilakukan oknum guru olahraga kepada siswanya di salah satu SD di Jalan Cempaka, Pekanbaru. Oknum guru tersebut pernah juga memperlihatkan foto-foto porno kepada muridnya saat mengajar.

Peristiwa memalukan lainnya adalah apa yang dilakukan oleh oknum guru di Banyuwangi yang melakukan perbuatan tidak senonoh dengan siswinya dan beredar secara sembunyi-sembunyi dalam bentuk rekaman video. Kejadian ini sama memalukannya dengan peristiwa di Makassar di mana aparat kepolisian membekuk seorang guru salah satu SMA swasta di Makassar yang tertangkap sedang mencabuli siswanya pada salah satu kamar wisma.

Daftar panjang perbuatan cabul guru semakin panjang dengan penangkapan yang dilakukan Satuan Reserse dan Kriminal Polres Metro Tangerang terhadap oknum guru pembimbing di salah satu SMK di Cimone, Kota Tangerang yang diduga melakukan perbuatan cabul terhadap seorang siswanya. Berita lainnya adalah ulah guru sekolah dasar di Lampung Timur yang menggerayangi lima siswinya saat pelajaran olah raga. Peristiwa pencabulan guru terhadap murid ini ternyata menyebar di berbagai wilayah di tanah air. Selain cerita di atas, terjadi juga di Cirebon dilakukan guru SD terhadap siswanya, di Tasikmalaya yang merupakan kasus asusila sesama jenis diduga dilakukan oknum guru terhadap belasan siswa SMA, di Serang oleh guru sanggar tari, di Bantul oleh seorang oknum kepala sekolah SMA, di Sidoarjo oleh guru honorer SDN terhadap murid lakilakinya. Selain itu, kasus serupa juga pernah terjadi di Lingga, Surabaya, Jakarta Selatan.

Apa yang mereka lakukan pastilah membuat dunia pendidikan tercemar, guru yang seharusnya menjadi panutan justru tega mencabuli, memperkosa, serta melakukan perbuatan maksiat dengan siswa yang seharusnya dilindunginya. Sungguh tidak dapat dibayangkan kualitas proses pembelajaran bagaimana yang dihasilkan dan tidak terbayangkan bagaimana mutu produk pendidikan kita dengan mutu guru demikian.

Ternyata, sungguh beragam tipe guru yang menjadi pendidik anak bangsa ini ada guru perkasa, ada yang suka memperkosa, ada pula yang selalu berlinang airmata. Ada pula guru yang hebat, guru yang galak, guru yang baik, guru yang lemah, guru yang suka disuap, guru yang berdedikasi terhadap pekerjaaannya, guru yang berjuang untuk hidupnya, guru yang tidak suka menjalankan profesinya, guru yang tidak bisa mengajar, guru yang bisanya hanya menghajar, ada lagi guru yang mudah tersinggung, guru matre, guru yang percaya pada murid-muridnya, guru yang disenangi muridnya, guru genit dan berbagai macam jenis guru lainnya.

Agar lebih tahu ragamnya guru, anda perlu tahu juga bahwa ada guru yang sifatnya tak perlu ditiru, memanfaatkan statusnya sebagai guru, merayu murid melampiaskan nafsu. Tentunya banyak guru yang tidak bermutu, mereka pasti enggan menambah ilmu, yang dipikirkannya adalah bagaimana menambah uang saku. Akan tetapi jangan membayangkan semua guru hidup makmur, untuk membeli buku mereka harus lembur, soalnya jika pulang ke rumah tak punya uang untuk dapur, bisa-bisa mereka akan kena gempur. Banyak juga guru yang harus bekerja luar biasa, mereka dari pagi hingga malam harus bekerja, untuk menambah gaji yang tak seberapa, ada yang mengajar di mana-mana, ada yang sambil menarik beca, ada pula yang menjadi agen dunia. Memang gaji guru tak seberapa besarnya, tapi itu pun masih sering disunat entah untuk apa, makanya namanya pun pahlawan tanpa tanda jasa.

Namun demikian bukan menjadi alasan untuk bisa berbuat semena-mena. Oleh karena itu, untuk guru yang jauh dari etika, moral, dan agama, serta tidak kompeten dalam bekerja, mungkin sebaiknya melepaskan saja profesinya sebagai pendidik generasi muda, karena jika dibiarkan berlama-lama akan membuat bangsa lebih binasa. Pahlawan tanpa tanda jasa pun tak pantas disematkan kepada mereka, karena mereka bukanlah pahlawan dan tak punya jasa. Namun untuk guru yang berhati mulia, yang menjalankan tugasnya dengan sepenuh cinta, yang tidak pernah menuntut balasan dari anak didiknya, yang mencintai profesinya, rasanya pantaslah setidaknya kita berucap terima kasih pada mereka.

Mungkin ucapan kita yang tulus, bisa membuat mereka lebih bersemangat dalam menjalani profesinya dan bisa mengingatkan mereka bahwa betapa mulianya pekerjaan mereka, betapa profesi mereka adalah sesuatu yang nyata yang dapat memperbaiki keterbelakangan negara kita. Semoga hidup yang lebih baik segera menghampiri mereka. Pahlawan Tanpa Tanda Jasa rasanya terlalu kecil sebagai julukannya, karena sungguh besar jasa yang telah diberikannya.

Sumber: Zulkarnain Lubis / WASPADA ONLINE

Penulis adalah Kepala SMA Negeri Plus Mandailing Natal, Mantan Rektor UMA dan Dosen Pasca Sarjana UMA/USU/UNIMED

About these ads

4 Tanggapan

  1. wah kayaknya saya mesti berkaca lagi guru tipe bagaimana saya ini…. thx udah mengingatkan :)

  2. bung vandha
    yang bejat itu mah orangnya, bukan gurunya
    sebab
    guru adalah pendidik, guru bejat artinya mendidik kebejatan
    tapi
    guru melarat, memang benar-benar melarat
    ya gurunya ya orangnya
    apalagi kalau guru hebat
    wah ini sih no comment
    kan anda sendiri orangnya
    salam luar biasa!!

  3. Ah… Masedlolur ada aja…
    OK thanks atas komennya, mari kita hindari guru bejat, mari bergerak dari melarat, tp marilah bersama2 menjadi guru hebat

    Salamku

  4. +++
    Thanks mas… yuk kita bangun pendidikan dengan IT… semampu kita.. Ayooo

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.803 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: