• Asmaul Husna

  • Saat ini (WIB) …

  • Hari ini …

  • Yang Mampir

    • 217,528 pengunjung
  • Isi Blog ini

  • Tulisan Teratas

  • Pilih Kategori…

  • Tulisan Dalam Blog Ini…

INSPIRASI QUR’AN: Jumlah Ayat dan Matematika

Tanggal 26 Juli Malam, saat mendengar ceramah Ust. Yusuf Manshur, saya memeriksa beberapa ayat untuk menindaklanjuti paparan beliau tentang Surah al Baqarah yang memiliki 286 ayat.

Saat jumlah ayat dibagi 2 (urutan surah), ternyata hasilnya 143. Maka kita lihat ayat 143 dalam surat al Baqarah berbunyi:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil (pertengahan) dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Kata Wasathan berarti pertengahan (adil), namun Continue reading

Peran Ilmuwan Dalam Tauhid

Sisi ilmuwan yang terkadang dilupakan adalah dekatnya mereka pada tingkat tinggi keimanan. Terlepas dari kurang dihargainya ilmuwan di Indonesia, tulisan yang dimuat di Waspada Online ini cukup menggugah. Semoga …

++++++++++++++++++

Rasulullah SAW menangis di suatu tengah malam sampai membasahi tanah setelah menerima wahyu surat Ali Imran ayat 190: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (ulil-albab)”. “…Sungguh, celakalah bagi orang yang membacanya kemudian tidak berfikir tentangnya…” demikian sabda Rasulullah menjawab keheranan dan pertanyaan Bilal Bin Rabbah yang ketika itu datang saat menjelang subuh.

Ayat berikutnya, ayat 191, menjelaskan kriteria yang termasuk dalam golongan ulil-albab ini. “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirikan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”.

Cukup jelas ayat ini secara spesifik ditujukan pada golongan pemikir (ulil-albab) yang mampu mengkaji, meneliti, dan memahami proses kejadian alam semesta, serta pergantian siang dan malam, dan akhirnya, berdasarkan nilai-nilai tauhid yang diimaninya, menarik kesimpulan “Ya Tuhan kami,  tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”.

Tentu, ayat ini sebenarnya dimaksudkan berlaku umum kepada mereka yang tergolong ilmuwan, apapun bidangnya, tetapi dalam ayat ini diambil salah satu contoh ilmuwan yang berkecimpung dan menekuni bidang ilmu alam (natural science) dan teknologi.

Penyelidikan-penyelidikan tentang proses kejadian jagat raya dan isinya, termasuk bumi, memerlukan pengetahuan tingkat tinggi dan penelitian-penelitian di laboratorium. Informasi-informasi yang diberikan Allah dalam Al-Quran yang berkaitan dengan proses kejadian alam semesta dan pesan untuk menelitinya cukup banyak; di antaranya dapat dilihat pada surat-surat Yunus: 101, Al-Anbiya: 30, Adz-Zariyat: 47, Fushshilat: 11,12 dan 53, Al-Ghasyiyah: 17-20.

Apa yang merisaukan Rasulullah sehingga beliau menangis begitu pilu? Jawaban yang disampaikan Rasulullah kepada Bilal cukup jelas. Celakalah seseorang ilmuwan itu bila tak mampu menarik kesimpulan akhir dari hasil kajian dan penelitiannya, dalam bidang apapun, sama seperti kesimpulan yang digariskan oleh para ulil-albab itu. Kesimpulan yang mengakui secara mutlak keagungan, kebesaran, kekuasaan, dan kerahiman Allah yang tak terukur. Kesimpulan yang sekaligus juga mengakui kekerdilan manusia, keterbatasan, ketidakberdayaan, dan ketergantungannya yang mutlak kepada Sang Pencipta.

Tidak dapat tidak,  sepertinya hanya bisa dimiliki oleh ilmuwan yang ketauhidannya tanpa cacat. Pengakuan ketergantungan dan ketundukan mutlak para ulil-albab ini selanjutnya bisa dilihat dalam do’a mereka yang termaktub dalam 3 ayat berikutnya, Ali Imran: 192-194.

Azas Tauhid Dalam Pendidikan
Wawasan ilmu, apapun bidangnya, belum dikatakan sebagai ilmu yang bermanfaat (‘ilman nafi’a) bila tidak dilandasi oleh nilai-nilai ketauhidan yang benar. Muhammad Natsir, diusia muda 29 tahun (1937) telah menyampaikan pikiran-pikiran cerdasnya dalam majalah Pedoman Masyarakat berjudul “Tauhid Sebagai Dasar Pendidikan”. Dalam pandangan beliau, pendidikan tauhid kepada anak hendaklah diberikan seawal mungkin, selagi masih muda dan belum dibentuk, sebelum didahului oleh ideologi dan fahaman lain.

Seorang ilmuwan yang memiliki tauhid yang benar akan merasakan bagaimana potensi ilmu yang dimilikinya tak berarti apa-apa, begitu juga yang dimiliki oleh orang lain, bila dibandingkan dengan alam dan benda yang penuh misteri, apalagi terhadap ilmu Sang Penciptanya. Ilmu yang diperoleh adalah semata-mata pemberian Allah dan itupun sedikit sekali  (Al-Isra': 17).

Kemampuan akal yang disadari sangat terbatas dan karenanya rasionalitas yang dikembangkan juga diyakini sangat terbatas jangkauannya. Ia mampu menundukkan rasionalitas pemikirannya yang berkembang liar dalam memahami Al-Quran dan Hadist. Ilmuwan seperti inilah yang diharapkan sebagai cendekiawan muslim yang mampu memerankan dirinya sebagai benteng penjaga agama Allah, mampu memberikan pencerahan di tengah ummat,  memperkuatnya, dan melahirkan gagasan cemerlang  dan keteladanan dalam menggapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Satu hal yang penting disadari bahwa pengetahuan dasar ketauhidan dalam tataran konsep saja tidaklah cukup tetapi haruslah dibarengi dengan pengalaman “merasakan” keagungan, kebesaran, kerahiman, dan kemahakuasaan Allah.

Konsep tauhid harus diperkenalkan kepada setiap muslim sejak kecil dan berkelanjutan hingga akhir hayat. Semua peristiwa dan alam sekitar yang dilihat dan difikirkan haruslah dikaitkan dengan peran Allah sehingga dapat “merasakan” kebesaran, kerahiman, dan kekuasaan Allah sampai pada suatu tingkat suasana batin yang memiliki keyakinan mutlak padaNya.

Keyakinan mutlak bermakna bahwa Allah SWT yang Maha Esa adalah segala-segalanya sementara manusia adalah hamba yang tunduk mutlak pada kehendakNya, tidak berdaya sama sekali kecuali apa yang diberikanNya. Al-Quran diyakini sebagai pedoman mutlak yang membimbingnya dalam menyelesaikan seluruh aspek persoalan kehidupan. Rasio diposisikan sebagai sebuah potensi akal untuk memahami petunjuk-petunjuk Al-Quran dan Hadist yang berproses dalam jalur tauhid.

Tujuan Pendidikan Islam
Berangkat dari nilai ketauhidan inilah, sekurang-kurangnya ada empat objektif yang harus menyatu dalam setiap individu muslim (four in one) dalam menuntut ilmu. Pertama, untuk mengenal kebesaran Allah lebih dalam lagi yang terdefinisi dalam asmaul husna. Kondisi ini memerlukan bekal pemahaman dasar ketauhidan dan keyakinan mutlak kepada Allah SWT yang menjadi benteng kokoh dari setiap konsep yang meragukanNya.

Pemahaman tauhid dalam tataran konsep tanpa keyakinan mutlak memungkinkan gagalnya seorang ilmuwan muslim mencapai objektif pertama ini. Ilmu yang berkembangpun menjadi liar tak terkendali. Barangkali, ini juga salah satu sebab mengapa sekarang ini bermunculan sarjana-sarjana muslim yang sangat mengagungkan potensi akal (rasionalisme), berfikiran aneh nyeleneh sampai berani menggugat Allah dan Rasulullah, mempertanyakan kesucian Al-Quran dan menafsirkannya sekehendak hati.

Kedua, untuk lebih memperdalam pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran dan Hadist serta pesan-pesan Allah dan Rasulullah. Semakin dalam ilmu dipelajari, semakin luas cakrawala berfikir, semakin kritis dan tajam daya nalar dan analisis menghadapi setiap masalah. Potensi keilmuwan yang dimiliki akan lebih memudahkan memahami informasi-informasi dan pesan-pesan yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadist, baik langsung maupun melalui penjelasan-penjelasan yang diuraikan oleh para ulama.

Pemahaman tauhid yang benar akan mampu membedakan yang haq dan bathil, mampu menyaring informasi ilmu yang menyimpang dari aqidah dan ajaran Islam, mampu menyadari kemisteriusan alam, kemisteriusan sebuah benda, kemisteriusan partikel partikel yang menyusun benda, termasuk kemisteriusan tubuh dan organ yang menyusun tubuhnya sendiri.

Ketiga, menerapkan nilai-nilai Islam dalam keseharian hidupnya sebagai khalifah (vicegerence of Allah) sehingga mampu memposisikan dirinya sebagai rahmatul lil’alamin. Pemahaman tauhid yang benar akan menghasilkan ilmuwan yang beriman dan bertaqwa, membimbingnya ke tujuan penerapan ilmu ke arah yang bermanfaat untuk peningkatan kesejahteraan dan kemaslahatan manusia serta kelestarian alam. Ia menghindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat, terlebih-lebih lagi penerapan yang merusak dan mungkar.

Keempat, menyebarkan ajaran Islam (dakwah) ke seluruh manusia dengan cara-cara yang tepat dan bijaksana. Ilmuwan yang memiliki tauhid yang benar sangat potensial mengemban tugas dakwah seperti yang dihimbau dalam surat An-Nahl: 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Ia memiliki kefahaman yang dalam tentang sifat dan karakter manusia, tahu menempatkan diri dan mengerti bagaimana bersikap dan berbuat dengan ketegaran yang seharusnya dituntut dalam mengemban tugas dakwah. Insya Allah, peran besar ilmuwan seperti inilah yang memungkinkan ajaran Islam semakin luas berkembang menyinari dan mencerahkan manusia, membuka jalan kembali ke fitrahnya. Wallahu a’lam bishshawab.

++++++++++++++++

Quote: “Jika orang berpegang pada keyakinan, maka hilanglah kesangsian. Tetapi jika orang sudah mulai berpegang pada kesangsian, maka hilanglah keyakinan”. [Sir Francis Bacon]

Hukum Benford dalam al Qur’an

Hukum Benford

Frank Benford, fisikawan dari General Electric, beberapa puluh tahun yang lalu, menemukan fenomena menarik dari alam. Apakah jumlah batu di pantai, jumlah kata dan huruf dari majalah, ataukah uang yang ada di bank, angka yang paling sering muncul adalah “1” . Benford bukan satu-satunya yang menemukan fenomena menarik ini. Sembilan belas (19) tahun sebelum ber­akhirnya abad ke-19, astronom Amerika dan juga ahli matematika, yaitu Simon Newcomb, telah mengetahui bahwa halaman­halaman buku yang tebal, dengan mendistribusikan digit “1” sampai “9” dengan pola yang menakjubkan, memberikan suatu pola yang relatif sama. Namun penemuan ini dengan cepat dilupakan orang sampai 57 tahun kemudian muncullah Frank Benford. la merumuskan pola angka setelah meneliti dan menganalisis 20.229 satuan angka dari mana saja mereka berasal; sungai, konstanta fisika, tingkat kematian, dan sebagainya.

Hasilnya adalah-ditunjukkan dalam pola distribusi

­sekitar  30,1% dimulai dengan angka 1;

­sekitar 17,6% dimulai dengan angka 2;

­sekitar 12,5% dimulai dengan angka 3;

­sekitar 9,7% dimulai dengan angka 4;

­sekitar 7,9 % dimulai dengan angka 5;

­sekitar 6,7% dimulai dengan angka 6;

­sekitar 5,8% dimulai dengan angka 7;

­sekitar 5,1 % dimulai dengan angka 8;

­sekitar 4,9 % dimulai dengan angka 9.


Tahun 1995, 114 tahun setelah penemuan Newcomb, Theodore Hill membuktikan bahwa hukum alam yang baru telah ditemukan oleh Benford. (Perhatikan, angka-angka abad ke­19, 57,114, dan 1995. Semuanya “kebetulan” kelipatan 19).

Pernyataan Matematika

Proceeding of the American Philosophical Society tahun 1938 mengeluarkan rumus matematika sebagai berikut:

Kemungkinan yang terjadi adalah digit n, di mana n = 1, 2, 3, …. 9

Log10(n+1) – Log10(n)

Hukum Benford dan al-Qur’ an

Murad Abdul Majeed dari Amerika Serikat membuktikan bahwa aplikasi Hukum Benford ini bisa diterapkan pada al­Qur’an dengan menemukan jumlah ayat tiap surat, dari 114 surat yang berawal dengan digit 1, 2,3 sampai 9. Misalnya saja, surat kesatu adalah al-Fatihah, jumlah ayat adalah 7, dengan awalan digit 7. Sedangkan surat kedua, al-Baqarah jumlah ayatnya 286, diawali digit 2, dan seterusnya.

Distribusi Ayat-Ayat Al-Qur’an Berdasarkan Hukum Benford

Jumlah Digit = 1, Jumlah Ayat per Surat = 176, 120, 165, 129, 109, 123, 111, 128, 111, 110, 135, 112, 118, 182,18, 13,14,11, 11, 18, 12, 12, 19, 17, 19, 15, 11,19, 11, 11. Jumlah Surat =  30.

Jumlah Digit = 2, Jumlah Ayat per Surat = 286, 200,206, 227, 29, 29, 22, 24, 28, 28, 20, 29, 25, 22, 26, 20, 21. Jumlah Surat =  17.

Jumlah Digit = 3, Jumlah Ayat per Surat = 34, 30, 37, 35, 38, 30, 31, 36, 30, 3, 3, 3. Jumlah Surat =  12.

Jumlah Digit = 4, Jumlah Ayat per Surat = 3443, 45, 45, 49, 44, 40, 90, 46, 42, 4, 4. Jumlah Surat =  11.

Jumlah Digit = 5, Jumlah Ayat per Surat = 52, 54, 54, 53, 59, 55, 52, 52, 56, 50, 5, 5, 5, 5. Jumlah Surat =  14.

Jumlah Digit = 6, Jumlah Ayat per Surat = 64, 69, 60, 60, 62, 6, 6. Jumlah Surat =  7

Jumlah Digit = 7, Jumlah Ayat per Surat = 7, 75, 78, 77, 73, 75, 78, 7. Jumlah Surat =  8.

Jumlah Digit = 8, Jumlah Ayat per Surat = 88, 83, 88, 85, 89, 8, 8, 8, 8, 8. Jumlah Surat =  10.

Jumlah Digit = 9, Jumlah Ayat per Surat = 99, 98, 93, 96, 9. Jumlah Surat =  5.

Artinya ada 30 surat dengan jumlah ayatnya dimulai de­ngan digit “1”, ada 17 surat dengan jumlah ayatnya dimulai digit “2”, dan seterusnya. Distribusi tiap digit akan sama dengan rasio distribusi Hukum Benford.


AI-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surat clan 6.236 ayat. Ini berarti, dengan Hukum Benford kita bisa mengatakan, bila ada digit yang berubah, berkurang atau bertambah, maka ada se­suatu yang salah pada kitab ini. Karena, jumlahnya bukan merupakan kelipatan 19 dengan distribusi Benford. Kita juga bisa mengatakan bahwa pernyataan ayat 30 pada Surat al­Muddatstsir benar adanya. Fakta lainnya adalah digit “1” atau “Esa” ada di dalam 30 surat, sama dengan banyaknya pemba­gian juz al-Qur’an. Di mana bilangan 30 merupakan salah satu angka yang sering muncul dalam struktur al-Qur’an. Seperti yang telah diketahui, angka 30 adalah bilangan komposit yang ke-19.


Pembaca dapat menyimpulkan bahwa bukan suatu kebe­tulan jika al-Qur’an mempunyai sistem kodetifikasi yang bertingkat, matematis bilangan prima, teristimewa bilangan prima kembar 19,11 atau dengan bilangan lainnya. “Segala sesuatu dihitung satu persatu (dengan teliti)” Satu ayat atau bahkan satu huruf saja hilang atau disisipkan, akan membuat ketidak­seimbangan dalam struktur matematisnya. Lalu apakah makh­luk jin dan manusia dapat membuat kitab yang serupa ini?


Jika manusia normal di-“kode”-kan dengan 23 pasang kromosom. Binatang cicadas dari jenis Magicada (menyerupai jangkrik atau kecoak terbang), timbul dari tanah setiap 13 atau 17 tahun sekali. Kedua-duanya adalah bilangan prima kembar. Mario Markus ahli fisika jurusan Molecular Physiology dari Institut Max Planc menjelaskan bahwa siklus hidup binatang ini 12 tahun sekali, maka semua predator (binatang pemangsa) yang mempunyai siklus hidup 2, 3, 4, dan 6 tahun sekali akan memusnahkannya. Oleh karena itu, jika cicadas mutasi dalam siklus 13 atau 17 tahun sekali, ia akan selamat.

Bagi yang memahaminya, al-Qur’an bukanlah kitab biasa. Walaupun kalimat-kalimatnya banyak berbentuk puisi dan prosa, ia bukanlah kitab sastra. Walaupun ratusan ayat menceritakan fenomena alam dan ilmu pengetahuan, ia bukanlah kitab ilmu pengetahuan dan bukan pula sebuah ensiklopedi. Al-Qur’an hanya dapat dimengerti dan dipahami bila dibaca baik-baik dengan mengetahui ilmunya. Hati terbuka, tulus, dan mau menerima. Bagi pembaca yang menginginkan jalan yang lurus, dengan seizin-Nya akan bertambah keimanannya.

“Namun bagi sebagian orang, akibatnya malah lebih buruk serta mendatangkan kerugian.” (al-Isra, 17 : 82).

Dikutip dan disadur dari buku, Matematika Alam Semesta, karya Arifin Mutie. Buku (eBook) ini juga dimuat dalam Bonus DVD BSE Diknas www.goodank.co.cc v.929 (425 buku + bonus) updated 09-02-2009.

+++++++++++++++++

Quote: “Kita tidak tahu bagaimana hari esok, yang bisa kita lakukan adalah berbuat sebaik-baiknya dan berbahaia hari ini”. (Samuel Taylor Coleridge)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.803 pengikut lainnya.