BERHARAP SISWA LITERASI

Impian Siswa Literasi

Ketika berkunjung ke Thailand setahun lalu (Januari 2015), alangkah mirisnya hati ini mendengarkan paparan kepala sekolah Mahidol School, bahwa tiap tahunnya  ada sekitar 15.000-20.ooo siswa SLTP yang mendaftar di sekolah tersebut. Dari hasil penyaringan, ternyata hanya 240 orang saja yang lulus dari tes yang super ketat. Mulai minat, bakat, IQ sampai tes kemampuan memecahkan masalah.

Selain seleksi yang super ketat itu, ternyata mereka diwajibkan pula memiliki kemampuan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua setelah Thai. Mereka wajib membaca dan membuat book report sebanyak belasan buku selama 3 tahun. Buku-buku inipun kebanyakan bahasa Inggris dan dipakai dalam mendukung Karya Ilmiah yang wajib mereka paparkan di akhir tahun kedua dalam Kegiatan Pameran tiap tahunnya. Intinya mereka wajib memiliki proyek karya ilmiah yang terbagi dalam kelompok, maksimal 3 orang dan memaparkannya di depan dewan juri, wajib berbahasa Inggris. Ya ampun…..

Bagaimana sekolahku? Tak berharap banyak, keinginan setidaknya 9 buku saja dibaca tuntas oleh tiap siswa dalam setahun mungkin sudah menggembirakan. Ya setidaknya yang berbahasa Indonesia, jadilah.

Atas dasar ini pula, penulis menganggap penting adanya formula dan program khusus dalam meningkatkan minat baca siswa yang terintegrasi dengan karya ilmiah mereka. Siswa literasi mungkin sebutan yang cocok untuk penggemblengan ini.

Kosa Kata, Tertinggal atau Terlambat?

Dalam berbahasa, kosa kata merupakan hal yang mendasar dan sangat penting diketahui. Mengetahui nama-nama benda terkadang harus dihapalkan. Bahkan dalam al Qur’an disebutkan bahwa “malaikat tidak mengetahui nama-nama benda yang diajarkan kepada nabi Adam”. Belum lagi ayat pertama yang turun malah menyuruh baca (Iqra’), luar biasa!

Seseorang yang berada di luar negeri, katakanlah Thailand yang dekat, tidaklah seseorang (asing/turis) memasuki sebuah toserba dan ingin membeli air minum (kemasan) akan menanyakannya lengkap dengan grammar bahasa Inggris. Cukuplah yang bersangkutan menyebutkan “drinking water” atau “water” saja kepada pelayan toko, maka dapat dipastikan pelayang langsung menunjukkan tempatnya. Ini merupakan contoh saja, masih banyak contoh lainnya seperti ingin naik kenderaan umum dan lainnya.

Tiga tahun di SLTP ditambah tiga tahun lagi di SLTA, semua siswa Indonesia mendapatkan pengajaran Bahasa Inggris, tapi hasilnya mayoritas siswa kita tak mampu berbahasa Inggris. Bahkan kebanyakan sesama guru bahasa Inggris pun tak “mengamalkan” ilmunya di sekolah, apalagi di rumah.

Bahkan banyak di antara guru bahasa Inggris tak mengenal istilah-istilah benda yang tiap hari dipegangnya. Apa itu? Buku! Ya buku jelas dipegang tiap hari, ya buku paket bahasa Inggris untuk para siswanya.

Jika buku (book) ini dijadikan sebuah tema yang mana istilah-istilahnya harus dihapal siswa, maka akan ada puluhan kosa kata yang akan dimiliki siswa. Mulai saja dari bagian awal buku, apa semua siswa sudah tahu nama/istilah yang ada dalam bahasa Inggris, misalnya Judul, Pengarang, Penerbit, Cetakan, Hak Cipta, Kata Pengantar, Ucapan Terimakasih,  Daftar Isi dan lainnya? Belum lagi istilah pada tampilan buku, halaman, dan sebagainya.

Sebuah tema di atas merupakan contoh kecil saja. Terbentang puluhan ragam tema yang dapat disesuaikan dengan program dan tujuan masing-masing sekolah. Namun setidaknya apa yang paling sering dihadapi siswa sehari-hari haruslah menjadi prioritas.

Idealnya pengenalan dan hapalan kosa kata berbasis tema ini dilakukan sejak dini, mulai SD dan SMP. Meskipun dilihat dari kurikulum tingkat SLTA, kompetensi yang harus dicapai siswa bukan lagi menghafal kamus semata. Namun itulah kenyataan di lapangan, banyak siswa yang tidak tahu nama dan istilah benda-benda di kelasnya.

Memang dapat dikatakan terlambat bagi siswa SLTA baru mulai menghapal kosa-kosa kata penting sehari-hari. Juga tak dapat dipungkiri, pengenalan tema-tama ini juga tertinggal dari segi pencapaian kompetensi. Namun alangkah lebih baik siswa terlambat mengenali kosa kata ketimbang melampaui silabus tanpa capaian kompetensi.

Jika hapalan kosa kata sebanyak 5 sehari dan terus diulang, setidaknya dalam setahun (200 hari efektif) saja mereka sudah memiliki 1000 kosa kata, luar biasa. Kosa kata bisa dikirim via SMS group berbiaya “sangat” murah, atau menggunakan sosial media “hampir gratis” sampai 5000 member tiap groupnya. Jika kosa kata ini dapat diiringi dengan contoh-contoh kalimat penggunaannya, tentu akan lebih menarik lagi.

Selanjutnya di kelas berikutnya (misal XI), dapat dilakukan pengembangan berupa gabungan pencarian kosa kata di textbook dengan tugas bookreport atau makalah. Setidaknya siswa di kelas XI sudah mulai terbiasa dengan buku-buku peminatannya yang berbahasa Inggris. Di kelas berikutnya (XII), siswa-siswa sudah dapat dilatih untuk mengkomunikasikan makalah (atau proyek ilmiah, bila perlu) di depan dewan penilai sekolah.

Dari sini setidaknya kita berusaha untuk melempar 3 burung dengan 1 batu, dimana awalannya berupa menghapal kosa kata (tematik), kebiasaan membaca (berliterasi) dan akhirnya dihasilkan karya-karya ilmiah para siswa. Luar biasa !!!

NB:

in progress (media untuk literasi, prosedur hapal kosakata, sinema berbahasa inggris ect.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: