Hijrah, Bergerak dan Berpindah

Umumnya setiap perayaan tahun baru Islam selalu ada kata hijrah yang diartikan sebagai berpindah. Kata ini selalu dipakai untuk kita yang ingin berubah, yang sering didengar dengan istilah berubah dari yang lama menjadi baru, dalam artian menjadi lebih baik.

Cukup lama didengar ungkapan-ungkapan ini diserukan oleh para mubaligh, penceramah dan para pendakwah. Sampai akhirnya kusimpulkan, untuk hijrah harus bergerak dan berpindah sebagai action.

Dalam tataran islam, orang yang lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung (hadits). Seandainya dia sama saja dengan hari kemarin, sudah termasuk merugi, apalagi sampai lebih buruk dari kemarin, sudah termasuk celaka (hadits).

Namun penulis tidak membahas jauh ke dalam kajian keislaman, apalagi ilmu hadits yang bukan bidang garapan penulis, melainkan bidang sains.

Ditinjau dari sisi mikroskopis, elektron selalu berputar dan berpindah posisi dari waktu ke waktu. Tidak mungkin menentukan posisi elektron secara tepat, pada waktu yang tepat pula. Inilah yang dikenal dengan ketidakpastian Heisenberg dalam fisika kuantum. Elektron selalu berpindah-pindah untuk bisa menghasilkan arus listrik (yakni aliran muatan negatif). Elektron juga harus sepaham untuk dipakai bersama dalam ikatan-ikatan dalam Ilmu Kimia.

Ikatan inilah yang kita lihat menjadi bahan, cairan, padat maupun gas dalam kehidupan sehari-hari. Jika ini tidak terpenuhi maka elektron tidaklah menjadi sebegitu berguna, bahkan tatanan dunia materi yang ada akan segera runtuh.

Di dalam tubuh kita ada aliran darah (baca pindah) yang dipompa oleh jantung setiap saat, begitu juga dengan udara yang dipompa oleh paru-paru. Jika saja tidak ada hijrah darah dan udara, maka jasmani ini tidak lagi berjalan secara normalnya (sakit) yang niscaya akan mati. Bahkan syaraf-syaraf yang berada di otak juga harus berubah setiap ada interaksi baru dari informasi yang diperoleh dari mata, telinga dan indera lainnya.

Mata dapat melihat karena adanya foton (partikel cahaya) yang masuk (hijrah) ke dalam mata kita, yang selanjutnya diubah dalam bentuk sinyal listrik ke dalam otak, sehingga terbentuklah simpul-simpul syaraf baru di dalamnya. Begitu juga bunyi yang kita dengar merupakan gelombang longitudinal yang berjalan (hijarah) di udara menuju telinga. Selanjutnya gendang telinga bergetar dan menghasilkan sinyal listrik yang diteruskan pula ke dalam otak manusia. Indra lainpun tak ketinggalan sebagaimana kulit yang mampu meneruskan sinyal-sinyal ke otak, termasuk pula lidah dan hidung yang mempu membedakan rasa dan bau sebagai interaksi zat2 kimia yang diteruskan ke otak manusia.

Akhirnya dalam sebuah sistem tubuh sekalipun, harus ada hijrah berterusan untuk sinambung kehidupan, meskipun pada akhirnya ada batasan waktu yang harus dipatuhi. Selesainya waktu, maka kitapun harus berpindah ke alam lain. Ini tidak berbeda dengan berpindahnya kita dari alam ruh ke dalam rahim, selanjutnya dari dalam rahim dengan tenggat waktunya harus pindah ke alam dunia.

Apa jadinya jika manusia-manusia sebelumnya (kakek buyut) tidak “berpindah/hijrah” dari dunia ini? Tentu bumi sudah dipenuhi oleh manusia dari dulu sampai sekarang. Begitu juga bayi yang dalam rahim yang tak berpindah ke dunia, akan mengalami nasib yang buruk pula. Bahkan sebaliknya, jika sperma tidak berpindah menuju sel telur di tempat yang tepat, maka tentulah tidak terjadi regenerasi manusia saat ini.

Dalam tatanan yang lebih luas, harus terjadi perpindahan air (siklus air), berupa menguap menjadi awan, turun sebagai hujan, mengalir di sungai-sungai dan seterusnya. Di sisi sosial juga harus ada perpindahan, agar roda ekonomi berjalan, pemerintahan berjalan lancar sesuai regulasinya.

Akhirnya sampai pada tataan alam semesta yang begitu luas, perpindahan harus terus berlangsung sebagaimana peredaran bumi, matahari, bintang, galaksi dll. Apalah jadinya jika matahari tetap berada di atas kepala kita di saat siang hari? Tentunya kehidupan di dunia ini pasti sudah lama punah.

Alam semesta inipun harus bergerak dari awal kejadiannya (l.k 15-14 Milyar tahun lalu) untuk mencapai kondisi sempurna saat ini. Para ilmuan juga telah menjelaskan mengembangnya alam semesta, yang akhirnya suatu saat juga akan berhijrah kembali menciut menuju titik nol (kiamat semesta).

Mudah-mudahan, di “bertambahnya” angka tahun hijrah yang baru ini penulis terdorong/termotivasi untuk berhijrah ke arah “vektor” yang lebih baik.

Amiiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: