• Struktur Halaman

  • Yang Mampir

    • 489.970 pengunjung
  • Tulisan Dalam Blog Ini…

Soal Gelombang Elektromagnetik (GEM) – 001

Sepotong kawat menembus medan magnet homogen secara tegak lurus dengan laju fluks …

Peluang, Matriks dan Tele-Aroma

Pada tulisan saya yang lalu (13 juni 2008), dibahas bagaimana TV/Internet atau Gadget bahkan Smartphone masa depan bisa mengirimkan aroma (bau) seiring dengan tampilan yang ada di layar. Tulisan yang saya tulis dengan Tele-BAU, Bau yang Ditunggu-tunggu ini secara garis besar bagaimana upaya negara hebat penghasil gadget (gawai) Korea Selatan berupaya mewujudkannya.

Kali ini, terkait dengan tulisan sebelumnya (24/04/2019) Peluang di Ekonofisika Menyinggung TV Beraroma yang awalnya disinggung saat menjelaskan Teori Peluang dalam Ekonofisika dapat dengan dijelaskan jika memadukan materi peluang, matriks, warna dasar, aroma dasar, digitalisasi dan blower.

Setidaknya menurut ilmuwan, terdapat 10 aroma dasar yang dapat dispesifikasikan secara ilmiah. Hasil dari perpaduan ini dapat dibuat kombinasi beragam aroma yang dapat kita nikmati lewat hidung. Kesepuluh aroma ini: Harum, Kayu/resin, Buah-buahan (bukan golongan sitrus), Bahan kimia, Mint/peppermint, Manis, Popcorn, Lemon, Tajam dan Busuk yang dinyatakan para ilmuwan sebagai dasar.

Terlepas dari penamaan A, B, C … J (sebanyak 10 aroma) perpaduan kesemua ini dapat dibuat dalam bentuk matriks 3 dimensi (ruang). Ini sejalan dengan bentuk aroma tak lain berupa gas, yang mana selalu menempati ruang. Maka dapat dibuat sumbu x-y-z yang masing-masing terdiri dari Aroma A, B, C … I, J (pada sb x), begitu juga sumbu y dan z. Maka kombinasi matrik dapat berbentuk aroma AAA, AAB, AAC dst ZZZ.

300px-coord_planes_color.svg_

Sebagaimana diketahui, penjelasan di atas analog dengan perpaduan warna yang kita lihat sehari-hari yang merupakan perpaduan 3 warna dasar (Merah, Biru dan Kuning). Untuk menghasilkan Hijau, kita bisa mencampurkan Biru dan kuning dengan perbandingan 1 banding 1. Dengan mengubah-ubah perbandingan, maka diperoleh hijau tua, hijau daun dst.

primarycolors

Dengan analogi yang sederhana dan sama dengan warna (anggap 2 dimensi), maka matriks 3 dimensi dan perbandingan proporsi aroma dapat membentuk ragam aroma yang diinginkan.

Analogi di atas dapat kita lihat dalam praktik printer warna saat mencetak warna-warni tulisan dan gambar. Kita lihat tangki tinta hanya 3 warna (+1 hitam, NB: dalam fisika hitam tidak termasuk warna), namu di kertas cetakan bisa puluhan warna yang muncul.

Kita masih ingat pewangi ruangan di dinding yang automatic, mampu menyemprotkan aroma tiap sekian menit dan tentunya bisa diatur waktunya tiap detik maupun mili detik jika diinginkan sedemikian rupa.

toilet-automatic-perfume-auto-fresh-matic-aerosol.jpg_350x350

Secara sederhana, jika masing-masing aroma dasar dibuat dalam tabung khusus dengan pengaturan semprotan secara digital, maka penyemprotan masing-masing tangki bisa diatur proporsinya dan perpaduan aroma kesepuluh aroma bisa sesuai dengan setting-an informasi yang datang ke microprocessor yang mengaturnya (wangi apa yang datang, misal: melati atau nasi goreng sekalipun).

Selanjutnya aroma paduan ini disemprotkan melalui blower ke ruangan, sehingga orang-orang akan mencium wangi yang ada di ruangan sama dengan (iklan) TV.

Kapan TV ini berada di pasaran?

Wallahu a’lam

Peluang di Ekonofisika, Menyinggung TV Beraroma

Rabu 24/04/2019 kemarin ….

Begitu seriusnya membahas peluang di Ekonofisika, mahasiswa akhirnya mencoba kembali dari awal contoh-contoh sederhana tentang Peluang. Mulai dari coin yang dilemparkan dengan peluang 1/2 sampai dadu dengan peluang 1/6.

Keseriusan mahasiswa makin bertambah saat contoh peluang dikomplekskan sedikit-demi sedikit, seperti coin dibuat 2 buah atau lebih, sehingga peluangnya berubah.

Contoh lainnya diberikan pula dengan dadu yang jumlahnya lebih dari 1. Kesulitan sudah mulai nampak dan dahi mulai mengerut. Akhirnya kembali ke pemanfaatan matriks untuk memudahkan perhitungan peluang yang muncul untuk jumlah coin atau dadu yang lebih dari 1 tersebut.

Eeee…. muncul lagi pertanyaan, bagaimana kalo ada 5 bola merah dan 5 bola kuning dimasukkan ke dalam karung, kemudian diambil 2 buah bola. Berapa peluang munculnya pasangan bola Merah-Merah atau Kuning-Kuning? Wah makin ramai nih pembahasan.

Di akhir contoh bola-bola ini, ditutup dengan pertanyaan, bagaimana kalo bola yang sudah diambil, tidak dikembalikan lagi ke dalam karung? Andai tak pakai matriks, kesulitan/komleksitas makin besar.

Salah satu mahasiswa bertanya, apakah bermain bola Bowling juga memiliki peluang? Setidaknya berapa peluang semua bola tumbang?

Dari sini dapat dijawab dengan melihat susunan botol pada bola bowling, melempar bola (apakah dari pinggir, tengah atau lainnya). Penggunaan matriks sangat-sangat membantu.

Sampai akhirnya menyinggung: apa bisa kita menonton TV yang tayangannya berisi iklan Parfum, pemirsa di rumah dapat menikmati aromanya?

Wow, ternyata dengan menerapkan peluang dan matriks serta aroma dasar, TV jenis ini akan terwujud nantinya.

Mau?
Akan kita bahas di tulisan berikutnya.

Ekonofisika: Informasi & Intensitasnya

Salam wr wb…

Lama juga tak menulis,
Tadi (Rabu pagi) saat mengajarkan Ekonofisika di kelas Fisika S-1 Fakultas Saintek UINSU Medan, ada yang menarik dalam mencari model fisika yang bersesuaian dengan fenomena ekonomi di masyarakat oleh mahasiswa S1.

Maklum aja, mereka juga baru dengar tahun ini ekonofisika tersebut. Salah satu pertanyaan dari mahasiswa kepada presenter di depan kelas adalah: “apa contoh yang berkaitan dengan model eksponensial?”

Wah … kelabakan juga presenter dibuatnya, meskipun sama-sama kurang paham mereka. Namun akhirnya kerumitan tersebut terpecahkan dengan mengingat persamaan perubahan Intensitas gelombang saat melalui benda yang memiliki tebal dan penyerapan tertentu.

media2fc7f2fc7f47640-4cab-455a-9067-64d986fe5a4b2fphpincnyg

menunjukkan adanya perubahan intensitas dari sumber setelah melewati ketebalan tertentu dari media.

Jika sebuah intensitas cahaya Io memasuki udara (atau media lainnya) yang tebalnya x, maka intensitasnya menjadi I’.

Intensitas akhir ini dalam ekonomi dapat dianalogikan sebagai (kejelasan) informasi yang diterima pelanggan dari sumber aslinya yang terus berubah secara eksponensial sejalan dengan hebatnya gangguan terhadap informasi itu dan banyaknya gangguan.

Dengan kata lain, jika ingin informasi yang lebih jelas dari sumber (Penjual, Perusahaan, Marketing dll), ada baiknya langsung dijumpai.

Bentuk analogi lainnya adalah kejernihan sesuatu tergantung dari kedekatan dengan sumbernya, ini juga berkaitan dengan ilmu hadits (sahabat Nabi Saw pasti lebih jelas infonya, ketimbang kita) tentang memahami agama Islam.

Dengan minimnya penghalang (x = 0), maka nilai I’ akan menjadi sama dengan Io. Ini mirip dengan kita yang bertransaksi langsung dengan para pedagang tradisional di pasar, karena kebanyakan mereka adalah pemilik langsung dagangannya. Sangat berbeda dengan swalayan-swalayan yang pramuniaganya hanya merupakan perpanjangan tangan, dimana informasi bisa berbeda sampainya ke kita.

Apalagi kita menanyakan informasi bisnis/dagang kepada tetangga yang belum tentu benar akurasi dan kebenarannya, bahkan bisa jadi hoax pula.

Apa bedanya dengan model Fisika yang linear tapi banyak variabel? Untuk contoh ini Diskon 30% + 20% + 10% mungkin contoh yang menarik, tapi bukan berarti diskon 60% kan?

Akan kita bahas lagi ya… OK

Membangun Database Administrasi Madrasah/Sekolah Dengan Mudah

 

Sering dialami di sekolah-sekolah saat ada keperluan terkait administrasi, banyak hambatan berupa sulitnya mencari file, surat keluar-masuk, data alumni, guru, absensi dan lainnya. Padahal saat ini sinkronisasi pangkalan data sangat diperlukan untuk efektivitas dan efisiensi sebuah lembaga atau organisasi.

Hal yang sama juga terjadi pada sebagian besar guru yang selalu diribetkan dengan permasalahan administratif pribadi dan sekolahnya. Sehingga sering terjadi guru harus menulis soal baik untuk ujian bulanan maupun semester.

Sejalan perkembangan waktu, internet telah menjadi bagiandari kehidupan manusia khususnya di perkotaan dan manusia millenial. Internetyang tak bisa dipisahkan dari mesin pencari google telah berkembang jauh darifungsi asalnya yang hanya berupa mesin pencari di internet. Hal yang menarikselain perkembangan Youtube (milik google juga), kini telah pula merambah kefasilitas database intereaktif dan penyimpanan data yang gratis secara online.

Fasilitas yang terakhir di sebutkan (google drive) di atas dari google kini telah memiliki ruang penyimpanan sebesar 15 GB dan gratis. Karena disediakangratis dan online, fasilitas ini dapat menjadi Harddisk online bagipenggunannya. Untuk sekolahan yang terkadang administrasinya masih offline,optimalisasi fasilitas ini diperkirakan dapat menjadi solusi. Dalam tulisan iniakan dipaparkan bagaimana cara penggunaan dan teknis pembuatan dan optimalisasiberkaitan dengan kebutuhan pendidik dan lembaganya.

Beberapa kelebihan yang dimiliki Google Drive ini antara lain:

  • bisa diakses dari berbagai perangkat
  • bisa disinkronkan dari folder computer/laptop ke drive
  • jenis file bisa dipilih untuk disinkronkan
  • file manager seperti biasa (di komputer)
  • untuk foto diberi fasilitas unlimited
  • untuk dokumen bisa formulir, spreatsheet, slide dll
  • bisa berbagi dan kolaborasi

Bersambung…

SEDEKAH & EKONOFISIKA, Kok Bisa?

 

Salam wr wb,

Setelah lama mencari dan mencari jawaban, “mengapa kok bisa sedekah 1 berbalas 10?” Dari mana jalannya? Mungkin itulah pertanyaan bagi orang yang berpikir kritis, apalagi yang tidak mempercai Tuhan.


Namun, setelah mencoba merenungkan dan mencari analogi yang pas dalam ekonofisika (kajian baru dalam ilmu fisika, sejak 1995), akhirnya ketemu juga jawaban yang ‘agak’ memuaskan.

Berikut ini fenomena-fenomena yang sudah sering kita dengar dan pelajari sampai tingkat SLTA, antara lain: 1) gaya, 2) energi, 3) cahaya, 4) atom, 5) reaksi berantai, dan lainnya. Dari beberapa kali coba untuk fenomena dan konsep dalam fisika, akhirnya ketemu pada cahaya dan lilin.

 

  • Jika sebuah lilin yang hidup dianggap sebagai sumber energi (cahaya), maka sekeliling lilin merupakan wilayah yang mendapatkan manfaat (cahayanya).
  • Dengan analogi yang sama, jika seseorang punya harta 10 juta, maka sekelilingnya (lingkungan tempat tinggalnya) akan mendapat manfaat dari kekayaannya.
  • Menganalogikan lilin yang hidup dikelilingi 10 cermin kecil, sama dengan orang yang berpunya dikelilingi 10 orang yang layak mendapatkan bantuan.

Sebuah lilin yang hidup akan memancarkan cahaya ke seluruh arah ruang dimana lilin berada. Jika sekeliling lilin diliputi 10 buah cermin dengan jarak yang sama, maka akan terlihat (bayangan) 10 lilin dari semua cermin. Bagaimana hubungannya dengan sedekah?

 

Mari kita telaah sang lilin. Misalkan tinggi lilin = 10 cm dalam keadaan hidup. Selanjutnya kita potong 1 cm ujung lilin, maka diperoleh 1 lilin kecil (1 cm) dan 1 lilin panjang (9 cm). Jika keduanya dalam keadaan hidup, maka diperoleh 2 buah sumber cahaya di depan cermin. Berapa jumlah cahaya lilin?

Dengan 10 buah cermin di sekeliling (kedua) cermin, maka akan terlihat sebanyak 20 bayangan lilin (plus cahayanya). Ini diperoleh dari 1 lilin kecil bersama dengan 10 bayangannya dan 1 lilin panjang bersama dengan 10 bayangannya.

Berapakah banyak lilinnya?

Banyak lilin sebenarnya cuma 1 buah (dengan panjang 10 cm) atau setara dengan 10 lilin kecil (masing-masing 1 cm), karena kita potong 1 cm maka menjadi 2 sumber cahaya. Dari sini, 10 cm lilin yang kita lepas 1 bagiannya secara matematis:

  • 10 potongan kecil lilin – 1 potong kecil lilin  = 1 potongan panjang (9 potongan kecil) + 1 potongan kecil
  • 10 potensi sumber cahaya – 1 potensi sumber cahaya + 10 cermin = 2 sumber cahaya + 10 cermin
  • diperoleh 20 sumber cahaya.

Namun, secara matematika sedekah, seharusnya 10 – 1 = 19, namun berdasarkan analogi cermin di atas, mengapa jadi 20? Sampai disini penulis memahaminya karenak adanya 2 lillin yg sejajar di hadapan cermin, sehingga 2 lilin yang berderet akan terlihat menjadi 1. Sehingga jumlah lilin dalam cermin menjadi 19 buah.

Namun perlu diingat, sebenarnya Allah swt mampu menggandakan hasil sedekah seseorang menjadi 700 kali lipat bahkan berapapun, sebagaimana yang disebutkan dalam al Qur’an.

Pelipatgandaan ini dapat pula dipahami dari pencerminan kembali cahaya-cahaya yang ada dalam cermin sampai jumlahnya tak berhingga.

Ada yang mau menambahkan?
Wallahu a’lam

 

 

 

 

 

Tak Ada Dingin, Jahat dan Gelap

Kemarin berdiskusi dengan teman-teman, awalnya hanya bincang-bincang ringan.
Entah mengapa berlanjut pada pertanyaan, “saat terjadi tsunami Aceh mengapa ikan-ikan yang ada di danau kecil di atas pulau Samosir (di danau Toba) Sumatera pada muncul kepermukaan?”

Sederhananya, mengapa ikan pada keluar dari sarangnya, tentu karena ada yang mengganggu habitat mereka, dalam hal ini bisa saja suhu (panas) air danau tersebut. Perubahan panas air danau dapat dipahami karena perubahan suhu pada dasar danau. Ini dapat terjadi karena magma dari gunung-gunung di seluruh dunia terhubung di bawah kerak bumi. Jika tsunami aceh mengakibatkan terjandinya getaran ataupun perubahan panas di dasar danau, otomatis ‘para’ ikan akan berusaha mencari tempat yang lebih aman, yakni ke permukaan danau.

Dari pertanyaan dan diskusi ini akhirnya muncul pertanyaan masalah gelap dan dingin.

Qur’anophysics

Dalam konsep fisika sebenarnya tidak ada istilah konsep (namanya) dingin, yang ada hanya panas. Terus dingin dalam fisika merupakan kondisi dimana sesuatu kekurangan panas atau kalor. Kita menyebutnya dingin karena kurangnya energi dalam bentuk kalor pada benda/materi tersebut.

Benda-benda yang kita sebut (dengan istilah) dingin sebenarnya menunjukkan kurangnya kalor padanya. Jika kita lihat termometer Celcius, maka yang ada hanya angka 0 sampai 100. Saat dicelupkan di air mendidih pastilah skala menunjukkan 100 oC. Sebaliknya saat kita dekatkan ke es batu, terlihat skala termometer menuju angka nol.

Termometer Fahrenheit dan Celcius

Kita tahu, bahwa angka-angka yang ditunjukkan termometer tersebut adalah suhu, yakni derajat panasnya suatu benda. Konsep suhu/termometer ini telah kita terima sejak mempelajari IPA di tingkat SD. Suhu disebutkan derajat panas suatu benda, masih ingatkan? Bukan derajat panas atau dingin suatu benda!

Kembali ke diskusi bersama teman…
Kawan-kawan yang bukan orang (guru berbasis) MIPA masih berpandangan adanya konsep dingin, padahal ini merupakan efek dari kebiasaan sehari-hari. Sering kita menyebut dalam kulkas itu dingin, es itu dingin, malam hari dingin. Ini merupakan hal yang wajar, karena kita di tingkat SD juga tidak dipahamkan konsep yang benar terhadap suatu gejala alam. Akhirnya seperti itu turun temurun di tingkat akademis.

Apakah Es Tidak Dingin?

Benar kita mengatakan bahwa es itu dingin, istilah sehari-hari!
Dinginnya es merupakan interaksi kulit tubuh kita terhadap benda bernama es tersebut. Saat tubuh kita merasakan benda dengan suhu di bawah rata-rata suhu tubuh manusia (lebih kurang 39 oC), maka kita menyebutnya dingin, di bawahnya sedikit kita sebut mulai hangat dan seterusnya kita menyebutnya panas saat jauh di atas suhu tubuh kita. Tuhan menjadikan standar tubuh kita sebagai acuan panas/dingin terhadap interaksi di luar tubuh manusia.

Saat es diletakkan di tempat terbuka (ruangan), maka perlahan es akan mencair.  Sebelum es mencair, udara di ruangan berinteraksi dengan es, karena suhu udara lebih tinggi dari es berarti memiliki kalor (panas) yang lebih terhadap es. Kelebihan panas ini diberikan kepada es, sampai akhirnya bisa mencairkan sebagian kecil permukaan es tersebut. Akhirnya seluruh es mencair jika panas dari udara dalam ruangan mencukupi.

Tapi, jika suhu ruangan atau lingkungan tidak tinggi, maka panas dari ruangan/lingkungan tersebut tidak mencukupi untuk mencairkan es. Inilah yang terjadi di daerah yang ‘sangat dingin’ seperti di kutub, sehingga berbulan-bulan daerah tersebut tertutup salju/es.

Tak Ada Yang Namanya Dingin, Tak Ada Pula Kejahatan?

Dalam kehidupan sosial, kita menyebut seseorang sebagai penjahat, bajingan dan sebagainya. Namun kita juga menyebut sebagian kecil orang sebagai dermawan, alim dan lainnya. Mari kita simak video singkat berikut:

Analogi dengan panas dan dingin, dijelaskan bahwa dalam fisika konsep dingin itu tidak ada, yang ada hanya konsep panas atau kalor.

Apakah Tuhan menciptakan semuanya di alam semesta ini? Dalam pikiran kita tentu ya, Tuhan maha pencipta segalanya. Pertanyaannya muncul, apakah Tuhan menciptakan segalanya, termasuk menciptakan KEJAHATAN? Kitapun mulai bingung menjawabnya. Kalau Tuhan menciptakan kejahatan, berarti Tuhan itu jahat!

Nah, mari kita kembali pada konsep panas, sebagaimana disebutkan di atas, bahwa tidak ada yang namanya dingin (konsep fisika). Dengan analogi ini, sebenarnya Tuhan tidak pernah menciptakan kejahatan! Jika dingin kita nyatakan sebagai kurangnya panas pada suatu benda, maka kejahatan merupakan kurangnya kebaikan pada manusia.

Orang yang kita sebut jahat, pada dasarnya karena kebaikannya minim, sebaliknya orang baik (seperti dermawan,  alim, pemurah, jujur dsb) memiliki jumlah kebaikan yang melimpah.

Gelap, Apakah Ada?

Sebenarnya, apakah konsep gelap ada dalam Fisika?
Ketika malam hari, sebuah ruangan tanpa lentera/lampu terlihat gelap (sebutan sehari-hari). Saat kita menghidupkan lampu, maka seisi ruangan mulai tampak. Jelas tidaknya benda-benda dalam ruangan tersebut tergantun kuatnya intensitas cahaya dari lampu/lentera yang kita miliki.

Jadi, gelap pada dasarnya adalah kondisi dimana tidak adanya cahaya yang memasuki suatu tempat atau ruangan. Kita bisa memperkecil jumlah cahaya yang memasuki suatu tempat dengan mengatur sumbu lampu misalnya. Makin besar sumbunya, makin terang terlihat (intensitas makin besar – istilah fisika). Saat bahan bakar habis, maka lampu mulai redup, ruanganpun mulai tampak remang-remang. Ini menandakan jumlah cahaya yang ada di ruangan tersebut semakin kurang.

Dalam Fisika modern partikel cahaya disebut foton. Foton inilah yang mengisi ruangan yang ada, termasuk langit yang kita lihat sehari-hari. Saat siang terlihat terang benderang dan saat malam terlihat ‘gelap’ gulita. Malam yang gelap ini dapat dipahami karena tidak sampainya (kurangnya jumlah) foton/partikel cahaya ke tempat tersebut. Sebaliknya sisi bumi yang kita sebut siang dipenuhi oleh foton yang berasal dari matahari.

Dalam al Qur’an banyak menyebutkan kata malam yang identik dengan gelap, namun malam tidak sama dengan gelap. Lihat saja di perkotaan, malam belum tentu gelap. Karena banyaknya lampu (sumber foton), maka kawasan perkotaan terlihat terang karena telah diisi foton.

559326_420275351321210_100000162473224_1818807_2050221565_n

Jika dilihat pada ayat tersebut, cahaya merupakan sesuatu yang diberikan, berarti ada sumbernya. Sementara gelap gulita merupakan kondisi (karena) tidak ada cahaya yang diberikan.

Berikut ini gambar level tembusnya cahaya di dalam air, sebagaimana disebutkan pula dalam al Qur’an,

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (Q.S An-Nuur : 40)

Pada ayat tersebut sangat jelas bahwa Allah memberikan cahaya, dengan kata lain dari sebuah sumber ke tempat lain.

Untuk gelapnya suatu tempat, levelnya ditentukan berdasarkan level penembusan cahaya di dalam air. Gambar di atas menunjukkan spektrum cahaya yang tidak menembus air pada kedalaman tertentu. Dari sini, lautan-lautan yang dalam pastilah merupakan tempat yang paling gelap sebagaimana diisyaratkan dalam al Qur’an. Pada kedalaman lebih 200 meter, semua spektrum tak terlihat. Jadi, sangat jelas bahwa sesuatu tempat dikatakan gelap karena cahaya tidak memasukinya.